\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kisah lisan atau cerita legenda hingga kini terus dituturkan secara turun-temurun melalui pitutur dan tetap dilestarikan di desa-desa di penjuru Nusantara. Sepenggal kisah lisan di suatu daerah bahkan memuat berbagai macam versi namun tetap dipercayai karena mengandung nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan warga yang meyakininya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama seperti halnya kisah lisan tentang Ki Ageng Makukuhan, yang dipercayai oleh warga lereng gunung Sumbing sebagai penyebar agama Islam pertama di Desa Kedu, Temanggung. Ki Ageng Makukuhan merupakan anggota santri sanga dan dipercaya oleh banyak orang sebagai penerus Wali Sanga. Asal usulnya penuh misteri. Ada yang bilang beliau keturunan Cina, yang lain bilang dari Arab, dan lainnya lagi bilang beliau keturunan Jawa. Ada yang bilang jasadnya dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Ada lagi yang menyakini dimakamkan di Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Namun dari manapun asal usul Ki Ageng Makukuhan, warga lereng gunung Sumbing hingga kini tetap menyimpan keyakinan dalam kalbunya. Keyakinan yang kemudian berkembang di tengah masyarakat menjadi tradisi. Tradisi warisan leluhur warga Dusun di lereng Sumbing yang terus dilestarikan. Dan tradisi itu tidak ada yang berani melanggarnya hingga saat ini, seperti tradisi Ritual Among Tebal di Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, dan Dusun Dukuh, Desa Wonosari, serta Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Tambaku, Mbako hingga Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tradisi Among Tebal adalah doa bersama sebelum tanam perdana tembakau. Dalam melakukan tradisi ini ratusan warga berkumpul di tanah lapang membawa uba rampe seperti tumpeng, ingkung ayam, dan beberapa nampan berisi buah-buahan dan jajan pasar. Semua ubarampe itu didoakan kemudian dilakukan kembul bujana atau makan bersama. Sambil menonton pentas kesenian tradisional dusun setempat. Tradisi Among Tebal tujuannya untuk meminta dimurahkan rejeki dan keberkahan bagi setiap warga.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tradisi Rejeban Plabengan merupakan tradisi syukuran semua warga Dusun Cepit, Desa Pagergunung, yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab\/Rejeb tiap hari jumat. Tradisi Rejeban Plabengan diawali dengan prosesi pengambilan air suci pada hari kamis di sumber mata air yang letaknya di lereng Sumbing. Kemudian malam harinya seluruh warga membawa obor menuju Plabengan, mengadakan tahlilan dan membaca salawat di makam Ki Ageng Makukuhan. Pada hari jumat pagi, ratusan warga memikul tenong berisi ayam ingkung, lauk pauk, dan pisang, mengiringi tumpeng berukuran besar. Mereka berjalan beriringan dipimpin Mbah Kaum dan Mbah Suyono sang kuncen Plabengan. Semua makanan di dalam tenong itu didoakan, lalu dimakan bersama sambil menonton kesenian tradisi setempat yakni jaran kepang. Tujuan Rejeban Plabengan adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon dimurahkan rejeki, perlindungan dan keberkahan bagi semua warga. Usai Rejeban Plabengan biasanya dimulainya masa tanam perdana tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan Ki Ageng Makukuhan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n

Ki Ageng Makukuhan merupakan murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Lazimnya seorang murid yang sudah khatam menimba ilmu, Ki Ageng Makukuhan lantas mengembara, menolong orang, menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, menyamar menjadi seorang petani guna melakukan syiar agama islam. Beliau oleh Sunan Kudus dibekali benih tanaman yang dia sendiri tidak tahu namanya. Pesan Sunan Kudus jelas; tanamlah benih ini di tanah yang menurut hatimu tepat untuk ditanami. Sepanjang pengembaraannya, Ki Ageng Makukuhan telah mengangkat beberapa murid atau santri yang ikut bersamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di Desa Kemloko, yang letaknya berdekatan dengan Desa Legoksari di lereng Sumbing, benih itu ditebarkan lalu tumbuhlah tanaman yang subur berdaun lebar menghijau. Namun hingga tanaman itu tumbuh subur, Ki Ageng Makukuhan sendiri masih tidak tahu apa nama tanaman tersebut. Hingga suatu hari, Ki Ageng Makukuhan didatangi seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, sakit. Secara naluriah Ki Ageng Makukuhan memetik daun yang ditanamnya, lalu dikibas-kibaskannya daun itu sambil bergumam; Iki tambaku<\/em>, ini obat dariku. Ajaib! Beberapa saat kemudian orang yang sakit itu sembuh, sehat seperti sedia kala.
<\/p>\n\n\n\n

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh beberapa santrinya, lantas berita kesembuhan dari daun itu menyebar ke seantero lereng Sumbing dan sekitarnya. Secara lisan dari mulut ke mulut kata Tambaku menyebar menjadi kata Tembaku. Semakin banyak mulut yang mengabarkan dan semakin banyak pula telinga yang mendengarkan, kata Tembaku, berubah dengan sendirinya menjadi Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah lisan di atas begitu diyakini oleh warga Dusun Lamuklegok, Desa Legoksari, Temanggung. Karena kisah lisan itu telah dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi oleh para orang-orang tua sejak dulu. Dusun Lamuklegok, merupakan penghasil tembakau srinthil kualitas baik. Kisah lisan warga Desa Legoksari itu kini bertebaran di laman-laman dunia maya, dan tentu saja bertabrakan dengan sumber sejarah yang bertebaran pula di dunia maya; catatan-catatan sejarah itu mengatakan tembakau pertama kali masuk ke Nusantara pada awal abad ke-17. Sumber sejarah itu ada yang mengatakan bangsa Portugislah yang membawa benih tembakau pertama kalinya ke Indonesia, ada lagi yang bilang bangsa Belanda, dan Spanyol. Nama tembakau di Indonesia memang kata serapan dari \u201cTabaco\u201d yang berasal dari bahasa Spanyol. Tetapi tembakau tentu saja bukan berasal dari bangsa Spanyol.  
<\/p>\n\n\n\n

Kuncen Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Hari itu, jumat (22\/3) sore, saya diantar seorang warga menuju ke rumah kuncen Plabengan, Mbah Suyono, di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Keberadaan saya di Dusun Cepit, Desa Pagergunung dalam rangka memotret ritual Rejeban Plabengan. Saya datang bersama Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, dan beberapa teman fotografer dari Jogja. <\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, penggemar garis keras kretek 76 | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pagi usai meliput ritual Rejeban Plabengan, saya kelelahan dan tertidur menjelang salat jumat, dan terbangun pukul 15.00 wib di rumah seorang petani tembakau bernama Mujiono. Kedua teman saya, Giri dan Mamok sudah tiada. Mungkin mereka ngopi di warung Mukidi. Karena tadi pagi sempat rerasan<\/em> ingin minum kopi di sana sore hari.
<\/p>\n\n\n\n

Saat saya tiba di rumah Mbah Suyono, dia tengah duduk sendirian di ruang tamu. Mengenakan sarung, berpakaian batik dan berpeci. Wajahnya bersih. Tubuhnya tinggi saat dia berdiri menjabat tangan saya. Lelaki yang menjadi kuncen sejak tahun 1982 itu sekarang berusia 88 tahun.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak tahu mengapa ditunjuk oleh Wongso Rajiman menjadi kuncen makam Ki Ageng Makukuhan,\u201d kata Suyono mulai bercerita, dalam bahasa jawa. Wongso Rajiman yang disebut Suyono adalah kuncen Plabengan sebelum dirinya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAwalnya,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cSaya hanya diminta oleh Wongso Rajiman untuk membantu dan melayani, jika ada orang dari luar desa yang datang ingin berziarah. Selain di makam Ki Ageng Makukuhan, saya juga diminta membantu melayani orang-orang yang berziarah di makam Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati, yang merupakan santri-santri Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Selama nyantrik di Plabengan, Mbah Suyono tidak tahu jika Wongso Rajiman telah menempelkan kesaktian kepadanya. Dia hanya menaati saat diperintahkan untuk berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam sampai tujuh hari tujuh malam di makam Plabengan. Dan itu sering dilakukannya, berkali-kali. Sesekali Mbah Suyono ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Saat tengah asyik berbincang dengan Mbah Suyono, tiba-tiba Giri dan Mamok datang dan ikut duduk di ruang tamu. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

\u201cDulu,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cjasad Ki Ageng Makukuhan dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung. Tapi para santrinya tidak setuju sehingga makamnya dipindahkan dari Kedu ke Dusun Dukuh, Desa Wonosari. Karena lokasi Dusun Dukuh, Wonosari, berdekatan dengan Plabengan yang letaknya di Dusun Cepit, Pagergunung, makanya setiap selamatan selalu berbarengan yakni pada hari Jumat. Setiap jumat dan tidak berpatokan pada hari pasaran,\u201d kata Mbah Suyono.  
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Mbah Suyono, setelah sekian lama di Dusun Dukuh, Wonosari, makam Ki Ageng Makukuhan dipindahkan ke Plabengan. Sayangnya, Mbah Suyono sudah tidak ingat lagi tahun berapa perpindahan dari satu makam ke makam lainnya. Dan apa yang menjadi penyebab makamnya dipindah ke Plabengan. Yang dia ingat, saat itu dia masih duduk di bangku SD kelas 2 pada jaman pendudukan Jepang. Hebat sekali daya ingatnya.  
<\/p>\n\n\n\n

\u201cRitual Rejeban Plabengan,\u201d menurut Mbah Suyono, \u201cpertama kali dilaksanakan sejak perpindahan makam dari Dusun Dukuh, Desa Wonosari ke Plabengan di bulan Rajab\/rejeb pada hari jumat.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPlabengan,\u201d kata Mbah Suyono, \u201cmerupakan tempat untuk bermusyawarah wangsa Makukuhan. Ruang pertemuan bagi wangsa jin, juga pepunden dari Dieng yakni Empu Supa, Kyai Kendil Wesi dari gunung Merapi, dan Ki Ageng Makukuhan.\u201d <\/p>\n\n\n\n

\u201cMereka,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cbertemu setiap tahun pada hari jumat di bulan Rajab\/Rejeb.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Letak Plabengan berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Plabengan begitu wingit bagi warga Dusun Cepit. Kisah-kisah lisan dan kesaksian warga banyak bertebaran di sudut-sudut dusun hingga didengar banyak warga desa sekitarnya. Kisah-kisah lisan itu saya ketahui setelah saya menjumpai beberapa warga Dusun Cepit usai pulang dari rumah Mbah Suyono.
<\/p>\n\n\n\n

Selama menjadi kuncen sudah tak terhitung lagi berapa kali Mbah Suyono menyadarkan orang yang kerasukan di gunung, dan mengobati orang sakit. Semua itu dia lakukan hanya memohonkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Suyono merasa dirinya tidak mempunyai ilmu. Sebuah sikap rendah hati dari seorang kuncen yang disegani warganya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah suatu hari ada seseorang datang dari Jakarta,\u201d kata Mbah Suyono. \u201cLelaki dari Jakarta itu datang ke rumah dan bercerita jika dia bermimpi didatangi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpinya, Ki Ageng Ronggolawe menganjurkan lelaki itu untuk mendatangi gunung Sumbing dan berziarah di makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi,\u201d lanjut Mbah Suyono, \u201cpetunjuk itu datang dari mana saja dan diterima siapa saja yang dianggap berjodoh. Warga Dusun Cepit malah jarang yang diberi petunjuk oleh Ki Ageng Makukuhan. Petunjuk hanyalah jalan bagi siapapun yang berjodoh untuk datang ke Plabengan. Hanya sebuah jalan, karena orang yang mendapatkan petunjuk belum tentu permintaannya akan dikabulkan. Artinya, orang yang mendapat petunjuk akan benar-benar berjodoh jika permintaannya dikabulkan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Setelah puluhan tahun menjadi kuncen Plabengan sebenarnya Mbah Suyono punya niatan untuk beristirahat, berhenti menjadi kuncen. Mbah Suyono mengaku sudah berkali-kali meminta kepada Ki Ageng Makukuhan namun selalu ditolak. Berkali-kali berarti dia sudah berpuasa ngeblong<\/em> tiga hari tiga malam atau tujuh hari tujuh malam selama beberapa kali. Tidak setiap kali saat dia ingin bertemu lantas ditemui oleh Ki Ageng Makukuhan. Ini menyangkut waktu agung atau waktu yang baik. Karena di dalam hari ada waktu-waktu yang tepat dan tidak tepat, waktu agung, waktu apes, dan waktu yang dianggap jodoh bagi manusia, mengikuti perhitungan bulan, kelahiran dan semesta.
<\/p>\n\n\n\n

Saat pertama kali ingin bertemu untuk meminta ijin berhenti menjadi kuncen, Mbah Suyono berpuasa ngeblong<\/em> terlebih dahulu. Puasa Ngeblong atau Ngebleng selain tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur minimal selama 24 jam. Tidak setiap usai puasa ngeblong Mbah Suyono lantas ditemui. Terkadang Ki Ageng Makukuhan hanya menyampaikan amanahnya melalui tubuh orang lain. Pernah suatu hari Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh lelaki bernama Tudi, anak turun Wongso Rajiman. Dia tidak direstui.
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono tak putus asa dan melakukan tirakat lagi dengan niatan yang sama, ingin bertemu dengan Ki Ageng Makukuhan dan memohon ijin untuk berhenti menjadi kuncen. Kali ini Ki Ageng Makukuhan mau menemui Mbah Suyono tapi tetap saja keinginannya di tolak.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cApakah kamu ingin desamu geger.\u201d Begitu kata Ki Ageng Makukuhan, seperti yang diceritakan Mbah Suyono pada saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOo, bisa begitu, ya.\u201d Kata Mbah Suyono, hatinya bergetar. Luruh. <\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mbah Suyono, depan, turun dari plabengan usai ritual Rejeban Plabengan | Foto: Eko Susanto<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

\u201cLha, gene ngerti<\/em>,\u201d kata Ki Ageng Makukuhan. Usai mengucapkan kalimat itu Ki Ageng Makukuhan lenyap. Suyono terpaku dalam hening. Dia berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu saja Mbah Suyono kurang puas dengan jawaban Ki Ageng Makukuhan. Dirinya sudah cukup tua untuk melanjutkan pengabdiannya sebagai kuncen. Dia juga tidak diberitahu apa alasannya sehingga keinginannya berhenti menjadi kuncen ditolak Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun kemudian Mbah Suyono melakukan tirakat lagi; puasa ngeblong<\/em>. Dirinya menembus ruang dan waktu; mulai petang hari, tengah malam, hingga malam menjelang subuh.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWaktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono, sambil menatap mata saya. Matanya memancarkan keteduhan. Walaupun kornea matanya sudah nampak pudar karena usia tua. Namun tatapan matanya begitu lembut, ciri-ciri orang yang mempunyai jiwa yang tenang.
<\/p>\n\n\n\n

Kali ini Ki Ageng Makukuhan langsung menemui dirinya menjelang subuh. Dan berkata: \u201cTungguo sak megaring kembang.<\/em>\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Mbah Suyono kembali diperintahkan untuk menunggu.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTungguo sak megaring kembang, kuwi cepak limang dino, adoh maring 10 dina,<\/em>\u201d kata Mbah Suyono kepada saya, saat saya tanyakan apa maksudnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sehari bagi Mbah Suyono sama dengan dia laku atau nglakoni<\/em> selama setahun. Lima hari (cepak limang dina<\/em>) berarti lima tahun, hingga 10 tahun. Dia memahami apa yang dikatakan Ki Ageng Makukuhan. Dan hingga saat ini dia tetap sabar menunggu karena belum ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia telah tahu bahwa belum ada orang yang berjodoh menggantikan dirinya sebagai kuncen Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Tetapi di dalam hatinya, Mbah Suyono merasakan dirinya sudah tidak mampu lagi mengemban tugas sebagai kuncen. Fisiknya mulai menurun. Apalagi jika harus mengantar peziarah mendaki lereng gunung. Keputusannya berdasarkan kontemplasi yang matang. Setiap saat dia bercermin pada hatinya. Keputusannya bulat, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menjadi kuncen karena usia tua. Tetapi jawaban: Tungguo sak megaring kembang<\/em> sebenarnya juga adalah penolakan dari Ki Ageng Makukuhan.<\/p>\n\n\n\n

Kisah Lisan dari Plabengan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Saya pamit dari rumah Mbah Suyono sekitar pukul 17.00 wib. Di tepian jalan dusun beberapa warga memakai sarung, bergerombol di teras rumah sambil udud lintingan kemloko dan kretek 76. Saya hampiri sejenak dan berbincang beberapa saat. Lalu saya melanjutkan jalan menuju rumah Pak Mujiono, tempat saya, Giri, dan Mamok, menginap. Di sebelah rumah pak Mujiono terdapat juga warga dusun yang sedang ngobrol. Sama seperti di teras rumah tadi. Mereka memakai sarung, sambil udud lintingan juga ada yang udud kretek.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Lelaki yang berjaket putih dan bersarung bernama Buari, di sebelahnya Suratman, dan dua orang lainnya lagi. Pak Buari dan keempat temannya juga meyakini bahwa Plabengan adalah makam Ki Ageng Makukuhan dan santri-santrinya. Plabengan dianggap wingit oleh warga Dusun Cepit. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sukar diterima akal terjadi di Plabengan.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Pak Buari; pernah terjadi suatu malam, ada seorang warga melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan. Padahal tidak seorang pun warga dusun yang memelihara kuda. Apalagi berwarna putih. Kuda itu konon tunggangan Ki Ageng Makukuhan. Ada juga warga yang lain melihat seekor harimau. Tetapi tidak semua orang bisa melihat hewan-hewan peliharaan Ki Ageng Makukuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. <\/p>\n\n\n\n

Hanya orang-orang yang berjodoh. Orang-orang yang terpilih. Sama seperti halnya dengan permintaan. Banyak orang yang berziarah ke Plabengan tapi tidak semuanya dikabulkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJangan juga meminta sembarangan, Mas,\u201d kata Pak Buari pada saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSembarangan bagaimana maksudnya, Pak,\u201d tanya saya dalam jawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPernah ada seorang pemuda tirakat di makam tiba tiba tubuhnya terlontar seperti dilemparkan oleh seseorang yang tak terlihat. Pemuda itu jatuh di tepian jurang, lalu terperosok. Untungnya jurang di depan makam tidak terlalu dalam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMemang yang diminta apa, Pak, kok sampe dilempar,\u201d tanya saya lagi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPemuda itu meminta pusaka di Plabengan.\u201d Jawab Pak Buari.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, jangan-jangan banyak ya pusaka di Plabengan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah, ya sudah pasti banyak, Mas,\u201d jawabnya. \u201cDan itu tidak terjadi hanya satu kali. Sering terjadi orang meminta di Plabengan dilemparkan dari Makam. Jika warga mendengar kabar itu, warga lantas bisa menebak, pasti yang diminta adalah pusaka Ki Ageng Makukuhan.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Pak Buari juga bercerita; pernah suatu hari ada seorang perempuan datang dari Desa Sukorejo, Kendal, mendatangi Dusun Cepit. Perempuan itu datang bersama tukang ojek dan menanyakan rumah Ki Ageng Makukuhan. Warga yang ditanyai malah bingung karena yang ditanyai merupakan makam bukan rumah. Perempuan itu tetap yakin lelaki yang datang ke rumahnya dan menyuruhnya ke Dusun Cepit orangnya masih hidup dan bernama Ki Ageng Makukuhan. Pak Buari yang kebetulan lewat berhenti dan menanyai perempuan itu. Jawabannya sama. Perempuan itu tetap yakin Ki Ageng Makukuhan masih hidup. Dan mengundang ke rumahnya di Dusun Cepit.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya lantas mengantarkan perempuan itu ke rumah Mbah Suyono,\u201d kata Pak Buari. <\/p>\n\n\n\n

\u201cSaat tiba di rumah Mbah Suyono, perempuan itu terkejut dan berseru, lha ini yang datang ke rumah saya,\u201d kata Pak Buari.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Ringkasnya, perempuan dari Kendal itu adalah seorang pengusaha yang tengah anjlok usahanya. Saat gundah dan putus asa dia didatangi seorang lelaki tua mengaku bernama Ki Ageng Makukuhan. Orang yang mengaku sebagai Ki Ageng makukuhan itu lantas menyuruhnya datang ke rumahnya di Dusun Cepit. Sowan, silaturahmi. Anehnya, Ki Ageng Makukuhan datang menemui perempuan itu menyerupai Mbah Suyono.<\/p>\n\n\n\n

Bagi warga Dusun Cepit kejadian-kejadian aneh itu sudah sering terjadi dan sudah menjadi hal yang biasa.  Ki Ageng Makukuhan sering memberikan weweling<\/em> kepada warga melalui tubuh seorang warga. Anjuran untuk mengadakan kesenian juga atas permintaan orang yang dirasuki Ki Ageng Makukuhan. Saat ini Dusun Cepit mempunyai kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jahilan dan kesenian tradisi seperti kethoprak konon merupakan kesenian kesukaan Ki Ageng Makukuhan.
<\/p>\n\n\n\n

Pernah juga terjadi, kata Pak Buari, Ki Ageng Makukuhan merasuki tubuh warga memberikan peringatan. Tubuh warga yang dirasuki  Ki Ageng Makukuhan itu mengatakan agar warga Dusun Cepit tidak berpergian jauh karena ada yang akan dipanggil Tuhan. Sebuah berita lelayu. Benar saja, dua hari kemudian ada seorang warga Dusun Cepit yang meninggal dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah-kisah lisan yang bertebaran di lereng Sumbing memang sukar untuk dipercayai kebenarannya. Tetapi kisah-kisah sejarah lisan ataupun legenda yang disampaikan melalui pitutur selama membawa kebaikan bagi semua warga yang meyakininya akan menjadi kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran kisah-kisah lisan ataupun legenda tidak membutuhkan konfirmasi dari berbagai pihak melainkan untuk diyakini. Warga Dusun Cepit tahu bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan mereka meyakini kebenaran kisah-kisah lisan itu dan menjadikannya sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur. Kebudayaan pada hakekatnya melahirkan ketentraman dan kedamaian hidup tidak hanya bagi warga lereng Sumbing tetapi juga seluruh masyarakat di negeri ini.
<\/p>\n","post_title":"Kisah-Kisah dari Lereng Sumbing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-kisah-dari-lereng-sumbing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-01-08 10:54:16","post_modified_gmt":"2026-01-08 03:54:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5594","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5591,"post_author":"883","post_date":"2019-04-02 10:02:17","post_date_gmt":"2019-04-02 03:02:17","post_content":"\n

Industri rokok dan konsumennya memberikan kontribusi berupa pemasukan kepada kas negara yang sangat besar.\u00a0Di tahun 2018 hanya dari sektor cukai rokok, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp 153 triliun.\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Cukai rokok ini melekat  pada 9 jenis produk hasil tembakau yang dip, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF), Tembakau Iris (TIS), Klobot (KLB), Klembak Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Produksi Tembakau Lainnya (HPTL).<\/p>\n\n\n\n

Selain cukai rokok yang telah menyumbangkan 95-96 persen dari total pendapatan cukai, terdapat pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang luput dari perhatian. Padahal nilai yang disetor dari PPN rokok juga terbilang besar, yakni 9,1 persen di tahun 2018. Besaran 9,1 persen PPN ini diambil dari Harga Jual Eceran (HJE).<\/p>\n\n\n\n

Ada lagi pajak yang juga melekat pada sebungkus rokok, selain cukai dan PPN, komponen pajak lainnya adalah Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD). Besaran dari PDRD adalah 10 persen dari besaran cukai rokok.<\/h3>\n\n\n\n

Dari 3 komponen pajak yang dilekatkan dalam sebungkus rokok, pemerintah mendapatkan 60-70 persen keuntungan. Semisal dari HJE sebungkus rokok adalah Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapatkan keuntungan Rp 12.000 sampai Rp 14.000 per bungkus.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita bedah sedikit:<\/p>\n\n\n\n

Cukai<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Harga Jual Eceran sebungkus rokok merek X seharga Rp 18.700<\/p>\n\n\n\n

Tarif cukai rokok di 2018 sebesar 10,04 persen per batang. Artinya per batang rokok merek X dipungut cukai sebesar Rp 590 per batang. <\/p>\n\n\n\n

Adapun dalam sebungkus rokok merek X terdapat 16 batang di dalamnya. Besaran cukai Rp 590 per batang dikalikan 16 = Rp 9.440<\/p>\n\n\n\n

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Selanjutnya kita hitung besaran PPN sebesar 9,1 persen per batang. Jika harga sebatang rokok merek X sebesar Rp 1.168 maka sebatang rokok dikenakan PPN sebesar Rp 106 lalu dikalikan 16 batang = Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

Pajak Daerah Retribusi Daerah (PDRD)<\/a><\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Komponen ketiga adalah PDRD. Besaran PDRD dalam sebatang rokok adalah 10 persen dari besaran cukai rokok. Jika sebatang rokok merek X dikenakan cukai sebesar Rp 590 per batang, maka 10 persen dari besaran cukai sebesar Rp 59 per batang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi per batang rokok dikenakan Rp 59 per batang, lalu dikalikan Rp 59 dikalikan 16 = Rp 944.<\/p>\n\n\n\n

Mari kita hitung besaran 3 komponen pajak dalam sebungkus rokok merek X:<\/p>\n\n\n\n

Cukai : Rp 9440<\/p>\n\n\n\n

PPN : Rp 1.696<\/p>\n\n\n\n

PDRD : Rp 944<\/p>\n\n\n\n

Total besaran 3 komponen pajak di atas dalam sebungkus rokok sebesar Rp 12.080<\/p>\n\n\n\n

Besar bukan? <\/p>\n\n\n\n

Melihat besaran keuntungan pemerintah di setiap penjualan sebungkus rokok, industri rokok bak perusahaan BUMN bagi pemerintah. Lalu mengapa masih munafik mengakui bahwa rokok berkontribusi besar bagi negara? Sungguh sebuah ironi.<\/p>\n","post_title":"Menilik Pendapatan Negara dalam Sebungkus Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-pendapatan-negara-dalam-sebungkus-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-02 10:02:24","post_modified_gmt":"2019-04-02 03:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5588,"post_author":"919","post_date":"2019-04-01 06:51:42","post_date_gmt":"2019-03-31 23:51:42","post_content":"\n

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.
<\/p>\n\n\n\n

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com<\/a> dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.
<\/p>\n\n\n\n

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.
<\/p>\n\n\n\n

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.
<\/p>\n\n\n\n

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.
<\/p>\n\n\n\n

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.
<\/p>\n\n\n\n

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.
<\/p>\n\n\n\n

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.
<\/p>\n","post_title":"Smoker\u2019s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smokers-travel-berwisata-keliling-jakarta-dengan-mrt","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-01 06:51:46","post_modified_gmt":"2019-03-31 23:51:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5585,"post_author":"855","post_date":"2019-03-30 12:47:31","post_date_gmt":"2019-03-30 05:47:31","post_content":"\n

Subuh baru saja berlalu sejam yang lalu. Udara dingin di lereng gunung Sumbing ini masih terasa menusuk hingga tulang. Padahal jaket tebal telah mendekap, tetapi rasa dingin masih saja mampu membuat tubuh bergetar menggigil.
<\/p>\n\n\n\n

Mentari di balik gunung juga masih mengintip, hanya semburat kuning kemerah-merahan yang membuat gradasi di langit biru yang terpampang jelas. Embun pagi juga masih basah bertengger memadati daun-daun hijau, daun tembakau, sumber penghasilan terbesar masyarakat lereng gunung ini.
<\/p>\n\n\n\n

Kami berlima, pengurus Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), masih bersedekap menetralisir rasa dingin yang keterlaluan. Di antara jari-jemari terselip sebatang kretek yang sudah setengah jalan kami hisap.
<\/p>\n\n\n\n

Kami saling diam menunggu dua tokoh besar yang kabarnya pagi ini menapak ladang tembakau. Dua tokoh besar yang beberapa bulan ini menjadi alasan pertengkaran antara cebong dan kampret, akan datang bersamaan melihat lebih dekat geliat pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, suara mobil menderu merayapi tanjakan, memecah keharmonisan pagi dan sunyi kami. Kami menengok bersama ke arah suara, sekira 100 meter mobil Avanza hitam terus merangkak mendekati kami.
<\/p>\n\n\n\n

Kami yakin Jokowi dan Prabowo berada di dalamnya. Kabarnya mereka datang diam-diam. Hanya mengontak kami belaka. Mereka datang bersma tanpa pasukan, tanpa media dan sebuah setting dalam frame kamera. Bersama-sama. Menaiki mobil rakyat jelata bermerek Avanza, supaya tidak membuat heboh masyarakat desa. Katanya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan kami. Kedua pintu tengah terbuka beriringan. Jokowi keluar duluan, beberapa saat kemudian Prabowo menampakkan wujudnya. Keduanya memakai masker, celana jeans berwarna abu-abu, jaket gunung bercorak sama, kacamata hitam dan topi hitam bertulis rakyat jelata bertengger di kepalanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPenyamaran yang wagu!\u201d bisik Indi Hikami.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cHusssshhhh!\u201d Azami menyergah.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mengomandoi kami mendekat kepada keduanya, bersalaman. \u201cSehat, Pak? \u201c Sapa Azami kepada dua tokoh yang sering dibela mati-matian oleh pendukungnya tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cAlhamdulillah sehat,\u201d sahut Prabowo. Jokowi hanya diam saja sambil mengangguk.
<\/p>\n\n\n\n

Setelah berbasa-basi secukupnya, Azami mengomandoi kami menyusuri ladang tembakau. Di sepanjang galengan keduanya sesekali mengelus daun tembakau yang masih basah oleh embun.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas\u2026.mas,\u201d Jokowi menghentikan langkah kami. \u201cIni tembakau apa?\u201d lanjutnya sembari masih memegangi daun tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Azami mendekat kemudian menerangkan, \u201cIni varietas Kemloko, Pak Jokowi. Di sini tembakau terbagi menjadi tiga, yakni Kemloko 1, Kemloko 2 dan Kemloko 3. Kemloko 1 merupakan tembakau yang paling bagus, namun memiliki kekurangan rawan terhadap penyakit seperti jamuran. Kemloko 2 merupakan jenis tembakau yang bagus dan berada di garis aman karena daya tahannya yang lebih kuat. Sedangkan Kemloko 3 merupakan tembakau yang paling bagus karena perpaduan dari Kemloko 1 dengan virginia dan kualitasnya jauh di atas Kemloko 1 dan 2.\u201d
\u201cTetapi, sebagian besar petani di daerah Temanggung lebih memilih Kemloko 2 yang tahan terhadap penyakit, juga dapat memiliki kualitas yang tak kalah bagus jika masa perawatannya tidak menggunakan pupuk kimia,\u201d sahut Fawaz.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah, iya, iya,\u201d tanggap Jokowi sambil manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalau tembakau Srinthil itu bagaimana, Mas?\u201d Kali ini gantian Prabowo yang angkat suara.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMas Udin mungkin bisa menjelaskan. Monggo!\u201d Pinta Azami
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSecara sederhana tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering.  Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan. Begitu, Pak Prabowo,\u201d Jelas Mas Udin.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi dari varietas apapun bisa menjadi Srinthil?\u201d

\u201cPada prinsipnya daun tembakau bisa menjadi srintil berasal dari varietas lokal asli Temanggung, yaitu jenis kemloko yang ditanam dengan memakai teknik bagus. Sebagai contoh saat menanam tidak dicampur dengan varietas lain, tanah tidak terlalu banyak kadar airnya dan lain sebagainya.\u201d

\u201cTembakau Srinthil harganya bisa sampai sejuta perkilo lho, Pak,\u201d sahut Indi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOwalah begitu rupanya. Saya baru tahu,\u201d Prabowo manggut-manggut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMakanya Pak Prabowo itu harus sering-sering main di ladang, hehehehe,\u201d ledek Jokowi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cWah Pak Jokowi ini tidak tau saja, saya sering turun ke ladang, ladang pertempuran,\u201d jawab Prabowo yang kemudian diikuti tawa bersama-sama.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKalian kalau mau disambi ngerokok, boleh lho. Ora perlu sungkan-sungkan.\u201d <\/em>Jokowi mempersilahkan kami merokok. Tetapi kami enggan menyalakan kretek, dalam rangka menghormati kedua orang tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Kami masih terdiam di galengan ladang tembakau. Saling bertukar informasi dan bersenda gurau. Azami sebagai koordinator kami mengungkapkan bermacam hal yang menjadi uneg-uneg, tidak hanya kami, tetapi mungkin juga seluruh orang yang bergiat pada dunia pertembakauan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak Jokowi, Pak Prabowo, saya mewakili teman-teman ingin menyampaikan uneg-uneg yang beberapa hari ini mengganggu hati dan perasaan kami.\u201d

<\/p>\n\n\n\n

\u201cDiungkapkan saja. Biasa saja sama kita,\u201d jawab Jokowi. \u201cIya betul,\u201d Prabowo menyahut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKemarin ramai di media, timses bapak terang-terangan antitembakau. Timnya Pak Jokowi menganggap rokok terlalu murah, sementara timnya Pak Prabowo menganggap rokok adalah zat adiktif, sehingga para perokok perlu direhabilitasi. Ini adalah bukti konkrit kalo pihak Bapak tidak pro terhadap dunia pertembakauan. Padahal setiap tahun, sektor ini menyumbang ratusan triliun untuk negara. Bagaimana ini, Pak?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026 jelas salah itu. Sudah saya evaluasi. Biasa, tim saya itu kan macem-macem latar belakangnya. Kebetulan orang yang bilang itu, tidak pernah terjun langsung ke lapangan. Maklum lah, akademisi masa kini. Rokok sekarang itu sudah mahal, rokok adalah hiburan rakyat, masa saya rele merenggutnya? Tidak mungkin! Benar kan Pak Prabowo?\u201d<\/p>\n\n\n\n


\u201cBetul apa kata Pak Jokowi. Tim saya juga salah. Salah besar. Mana mungkin para perokok disamakan dengan pecandu. Salah itu. Wong prajurit saya dulu setiap bertugas selalu ditemani rokok pas lagi istirahat. Bagaimana bisa seperti itu. Nanti prajurit tidak bisa tenang menghadapi perang,\u201d ujar Prabowo sembari menggerakkan kedua tangannya. Tarian khas yang sering terekam kamera.

<\/p>\n\n\n\n

\u201cTenang saja. Tidak mungkin kami berdua membunuh sektor pertembakauan. Suka atau tidak, sektor inilah yang hulu ke hilirnya dikerjakan oleh rakyat Indonesia. Karena inilah, kata Agus Salim, banyak penjajah yang silih berganti berdatangan ke Indonesia. Menjajah kita. Betul tidak, Pak Prabowo?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJelas betul, Pak Jokowi!\u201d jawabnya sembari kembali berjoget ria.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSelain itu, perlu adanya road maps <\/em>yang progresif dan revolusioner untuk sektor ini, Pak. Harus saling menguntungkan antara petani, pabrikan dan pedang, supaya rakyat semakin sejahtera. Jangan hanya petaninya saja, pabriknya saja, pedagangnya saja, atau bahkan negara yang tidak bekerja apa-apa, yang sejahtera. Semua harus sejahtera.\u201d Azami kembali menanggapi.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cMashooook terus,\u201d ujar keduanya bebarengan.
<\/p>\n\n\n\n

Kami melanjutkan menyusuri ladang tembakau. Di tengah jalan, tiba-tiba bumi berguncang kencang. Kami semua jongkok. Semakin kencang goncangan terasa, kami semua ambruk. Tak ada yang dapat kami lihat semua gelap gulita.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, mata saya sendiri membuka mata. Sayup-sayup terdengar kakek-kakek bersuara parau melantunkan azan dari masjid seberang. Di hadapan saya seorang kawan masih menggoyang-goyangkan kaki saya.
\u201cTangi, Cuk! Subuh! Digugah angel temen!\u201d<\/em>
<\/p>\n","post_title":"Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kami-jokowi-dan-prabowo-pada-suatu-pagi-di-ladang-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-30 12:47:39","post_modified_gmt":"2019-03-30 05:47:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5582,"post_author":"878","post_date":"2019-03-29 10:13:35","post_date_gmt":"2019-03-29 03:13:35","post_content":"\n

Hari sudah cukup larut malam ketika saya memutuskan untuk pergi ke luar rumah di utara Yogya menuju arah selatan menyelusuri Jalan Kaliurang. Beberapa menit lagi memasuki jam 12 malam dan hari berganti. Di kanan jalan, saya singgah di gerai Indomaret untuk membeli rokok kretek favorit saya. Saya juga menanyakan kepada pelayan gerai apakah rokok baru bermerek Philip Morris sudah tersedia di sana. Sekira satu hingga dua pekan sebelumnya, saya sudah mendapat kabar akan ada produk rokok kretek baru yang beredar di pasaran bermerek Philip Morris.<\/p>\n\n\n\n

Pelayan gerai mencari rokok yang saya tanyakan di jejeran produk-produk rokok yang dipajang persis di belakang kasir. Ia coba mencari beberapa lama, berpindah dari pajangan rokok di belakangnya ke bagian bawah meja kasir, mengejek stok rokok yang belum dipajang. \u201cWah, habis, Mas. Kemarin sih masih ada saya lihat.\u201d Ujar pelayan gerai kepada saya.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membayar pesanan rokok kretek favorit saya kemudian meninggalkan gerai Indomaret dengan asumsi, gerai-gerai Indomaret lainnya sudah menjual produk rokok baru ini. Karena di gerai yang baru saya datangi sudah menjual, sayangnya ketika saya hendak membeli, sudah habis.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Perjalanan kembali saya lanjutkan. Kembali menyelusuri Jalan Kaliurang ke arah selatan. Selepas melintasi Jalan Lingkar Yogya, saya menepikan sepeda motor ke kiri jalan, singgah di gerai Circle K, tujuannya sama, hendak membeli produk rokok kretek baru bermerek Philip Morris. Dari pelayan di sana, saya mendapat informasi gerai-gerai Circle K belum menjual produk tersebut. Tak jauh dari sana, ada gerai Alfamart. Saya coba singgah lagi, dan produk rokok yang saya cari belum juga saya dapat. Pada akhirnya saya mendapat produk rokok itu setelah mengunjungi dua gerai Indomaret lagi.<\/p>\n\n\n\n

Usai mendapatkan produk rokok Philip Morris yang belum lama keluar untuk saya cicipi, saya tidak pulang ke rumah. Saya memilih menemui beberapa orang rekan saya di komunitas Lincak Lembah Code yang letaknya tak jauh dari bangunan Rumah Sakit Dr. Sarjito. Ada lima orang di sana ketika saya tiba, Yayan, Buluk, Edi, Budi Wilsky, dan Ega. Ditambah saya jadi enam orang. Semua dari kami penikmat rokok kretek dan memiliki rokok kretek favoritnya masing-masing. Saya Djarum Super MLD (SKM Mild) dengan bungkus berwarna hitam, Buluk Djarum 76 (SKT), Edi Gudang Garam Internasional (SKM Reguler), Budi Wilsky Gudang Garam Signature (SKM Reguler), Yayan sudah lebih lima tahun merokok kretek yang ia linting sendiri, membeli tembakau rajangan dan cengkeh di pedagang tembakau langganannya, dan sesekali mencampur rokok kreteknya dengan serbuk kemenyan. Dan yang terakhir Ega. Sejak mengonsumsi vape beberapa waktu lalu, ia belum meninggalkan mengonsumsi rokok kretek. Rokok kretek yang ia isap, apa saja, selalu minta kepada rekan-rekannya yang kebetulan ada didekatnya.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki brand Philip Morris Bold, rokok kretek baru yang dikeluarkan pabrikan milik Philip Morris ini memiliki bungkus rokok yang didominasi warna hitam. Saat saya membeli, per bungkusnya dibanderol dengan harga Rp12 ribu. Mungkin masih promosi. Per bungkus berisi 12 batang rokok kretek. Jenis rokok kretek ini adalah sigaret kretek mesin (SKM). Namun saya belum bisa memastikan apakah ia SKM reguler atau SKM Mild. <\/p>\n\n\n\n

Saya lantas membuka bungkus rokok Philip Morris yang baru saya beli, menggambil satu batang rokok untuk mencicip, dan meminta ke lima rekan saya lainnya untuk ikut mencicip produk rokok kretek baru ini. Rokok saya selipkan di sela bibir, kemudian membakar dan mengisapnya. Aroma yang keluar usai rokok dibakar dan diisap begitu wangi. Terlalu wangi. Mirip dengan aroma buah yang biasa keluar ketika saya mencium aroma dari asap vape yang diisap para penikmat vape.<\/p>\n\n\n\n

Lima kali isapan, kepala saya mendadak pusing, langit-langit mulut saya terasa kering dan seakan ada sesuatu yang tersangkut di sana. Yayan juga merasakan pusing, sedang Edi dan Buluk merasakan mirip dengan apa yang saya rasakan di langit-langit mulut kami. Mungkin karena ini kali pertama kami mencicip rokok ini. Budi Wilsky merasakan hal yang biasa saja, seperti merokok produk lainnya. Hanya saja ia merasa produk rokok ini cukup ringan saat diisap, tidak mengganggu tenggorokan. Saya pun merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.<\/p>\n\n\n\n

Dari semua kami yang mencicip produk rokok Philip Morris malam itu, hanya Ega yang berkomentar positif. Ia merasa rokok tersebut enak, ia juga cocok dengan aromanya yang bagi kami selain Ega, menganggap aroma rokok tersebut memiliki aroma yang terlalu mencolok dengan aroma buah atau sejenis vape lainnya, jauh berbeda dengan aroma rokok kretek pada umumnya yang masih sangat terpengaruh cengkeh dalam produk rokok kretek. Ya, keberadaan cengkeh, baik dari aroma juga dari rasa rokok kretek Philip Morris ini, seakan hilang tak berbekas. Tak ada sama sekali jejak-jejak cengkeh dalam produk rokok baru ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari sini, saya mencoba membikin sebuah kesimpulan. Produk rokok kretek Philip Morris ini saya duga diciptakan sebagai produk yang akan mengantar para penikmat rokok kretek beralih ke vape atau jenis produk alternatif di luar rokok kretek lainnya. Dalam produknya, kandungan cengkeh seakan berusaha dihilangkan. Padahal itu sesungguhnya inti daripada sebuah produk kretek. Hingga pada akhirnya, pendapat subjektif dari saya, rokok ini tidak enak, saya enggan mengisapnya lagi. Pendapat subjektif saya lainnya, rokok ini belum pantas disebut sebagai rokok kretek, karena rasa dan aroma cengkeh yang menjadi syarat utama sebuah produk dikatakan sebagai produk kretek, sama sekali tidak berbekas di sana.
<\/p>\n","post_title":"Rokok Philip Morris, Sebuah Usaha Mencederai Citarasa Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-philip-morris-sebuah-usaha-mencederai-citarasa-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-29 10:13:43","post_modified_gmt":"2019-03-29 03:13:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5582","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5579,"post_author":"878","post_date":"2019-03-28 08:56:41","post_date_gmt":"2019-03-28 01:56:41","post_content":"\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":32},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};