Kretek merupakan produk asli Indonesia. Ia lahir dan berkembang di Nusantara, bukan di luar negeri. Sejak ditemukan oleh H Djamhari di Kudus, komoditas ini tumbuh menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Ia tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga menyatu dalam tradisi dan keseharian sosial.
Daftar Isi
ToggleKretek kemudian diindustrialisasi oleh Nitisemito, yang dikenal sebagai Raja Kretek. Sejak masa itu, industri ini berkembang pesat dan mampu bertahan dalam berbagai situasi sulit. Dari era kolonial Belanda dan Jepang, krisis ekonomi 1998, hingga pandemi Covid-19, kretek tetap eksis. Industri ini terbukti menjadi salah satu sektor nasional yang paling tahan terhadap guncangan ekonomi dan politik. Bukan berlebihan tapi emang faktanya seperti itu.
Kretek menguasai pasar rokok di Indonesia
Hari ini, kretek menguasai sekitar 90% lebih pasar rokok di Indonesia. Sebuah prestasi yang sulit dicapai oleh industri rokok putih. Dominasi ini menjadikannya penguasa utama pasar domestik. Bagi perusahaan rokok multinasional, kondisi tersebut tentu menjadi hambatan besar. Indonesia adalah pasar yang sangat menguntungkan, apalagi dengan jumlah penduduknya yang cukup banyak. tetapi ruang ekspansi mereka terbatas karena selera konsumen sudah lama terbentuk pada kretek.
Selain kuat secara pasar, industri kretek juga relatif mandiri. Bahan bakunya tembakau dan cengkeh berasal dari petani dalam negeri di tanam di tanah sendiri. Tenaga kerjanya adalah masyarakat Indonesia. Konsumennya pun mayoritas domestik. Perputaran ekonominya banyak terjadi di dalam negeri, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada modal asing. Inilah simbol kemandirian nasional yang sebenarnya sehingga memantik perusahaan asing untuk menghancurkannya agar bisa bergantung dengan mereka.
Dominasi yang berakhir jadi penghalang perusahaan asing
Dalam logika persaingan global, pasar sebesar Indonesia terlalu besar untuk diabaikan. Karena itu, dominasi kretek sering dipandang sebagai penghalang bagi kepentingan ekspansi perusahaan multinasional. Maka dari itu seringkali muncul peraturan atau uu yang berusaha menghancurkan kretek dan malah menguntungkan rokok putih.
Lebih dari itu, kretek juga di paksa masuk perang dengan perusahaan farmasi. Perusahaan rezim kesehatan tersebut berusaha menguasai pasar nikotin di Indonesia. Tentu jalurnya lewat perusahaan farmasi tersebut untuk distribusi nikotinya. Karena nikotin memang ibarat emas hitam yang bernilai jutaan dolar. Selama masih ada kretek, tentu rezim kesehatan akan sangat sulit menjual produknya.
Maka dari itu kretek menjadi agenda penting untuk dihancurkan. Lewat narasi atau propaganda yang selalu menyudutkan dan berusaha agar kretek dibenci oleh masayarakat. Sehingga rezim kesehatan pun diuntungkan karena dengan legitimasi dari WHO dan LSM LSM.
Persoalan ini bukan soal kesehatan sesuai apa yang di bawa rezim kesehatan, tapi lebih dari itu. Persoalannya bukan sekadar produk, tetapi soal siapa yang menguasai pasar dan keuntungan jangka panjang.
Dengan demikian, pertanyaan mengapa kretek ingin dihancurkan dapat dipahami dalam konteks persaingan ekonomi dan perebutan dominasi pasar. Kretek berdiri bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai industri nasional yang kuat, mandiri, dan menguasai pasar dalam negeri.
Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika
BACA JUGA: Cengkeh, Dicuri Bangsa Asing Tapi Kembali ke Indonesia









