Rokok atau kretek sudah ada di Indonesia lebih dari satu abad. Ia sudah berdampingan dengan masyarakat, hingga menjadi satu tradisi dan budaya yang melekat dengan masyarakat. Hingga kini kretek menjadi industri besar di Indonesia.
Daftar Isi
ToggleBanyak orang bergantung pada industri hasil tembakau
Banyak orang bergantung hidupnya dengan insutri ini. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, buruh linting, hingga pedagang-pedagang kecil.
Kretek memiliki aroma dan rasa yang khas dibanding rokok putih. Pasalnya, kretek menggunakan campuran cengkeh dan rempah lain, sehingga menimbulkan rasa hangat, gurih, sedap dan rasa khas lainnya. Tidak seperti rokok putih yang hanya menggunakan tembakau dan saus.
Tentu hal ini yang menjadikan kretek diminati banyak orang. Bahkan perokok di Indonesia tercatat 70 juta orang. Bisa dipastikan mayoritas perokok kretek. Bukan tanpa alesan, karena memang lebih enak ketimbang rokok putih. Selain itu juga mengandung rempah khas kekayaan Nusantara.
Banyak orang bergantung hidupnya dengan Industri ini. Mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, buruh linting hingga pedagang kecil. Secara perekonomian pun cukup menjanjikan. Perputaran uang dari tembakau dan industri kretek di Indonesia sangat masif dan menjadi salah satu tulang punggung penerimaan negara serta penggerak ekonomi padat karya.
Kretek dari Segi Ekonomi
Perputaran uangnya pun cukup masif, dan menjadi salah satu tulang punggung penerimaan negara. Di tahun tahun 2024, kontribusi cukai hasil tembakau saja mencapai Rp216,9 triliun dan menyerap sekitar 5,98 juta tenaga kerja. Ini baru sektor cukainya saja, belum lagi perputaran uang yang masuk ke petani tembakau dan cengkeh.
Di Temanggung saja, daerah yang terkenal dengan komoditas tembakaunya, perputaran keuangan dari tembakau bahkan bisa mencapai 1,5 triliun.
Lebih dari persoalan uang, industri ini menyangkut hajat hidup jutaan orang. Terdapat sekitar 2,3 juta keluarga petani tembakau yang menggantungkan hidupnya pada komoditas ini. Belum lagi buruh yang bekerja di industri ini yang kurang lebih 4,2 juta orang. Ada juga ibu ibu buruh linting yang menghidupi keluarganya. Mayoritas juga hanya berijasah SMP bahkan SD. Tentu hanya di idnustri hasil tembakau lah mereka diterima.
Isu Industri Hasil Tembakau
Meski banyak memberikan kontribusi di bidang ekonomi, industri ini tidak pernah lepas dari yang Namanya isu. Berbagai serangan narasi mauapun regulasi setiap tahun menyerang industri ini. Mulai dari cukai, kemasan polos, kawasan tanpa rokok hingga narasi-narasi kesehatan yang tidak masuk akal. Bahkan persoalan rokok saja, bisa seolah persoalan ideologis. Seolah tipikal manusia dibagi menjadi dua: merokok atau tidak merokok.
Industri ini seringkali diperlakukan seperti halnya industri illegal. Padahal jelas ini legal. Sejak dulu industri ini memberikan kontribusi tidak hanya di ekonomi, bahkan sampai ke sosial. Anehnya, industri ini malah diserang dengan narasi atau regulasi yang menghimpit industri ini. Bukan tanpa alasan tentunya industri ini diserang. Bukan seolah olah faktor kesehatan, tapi jelas ini permainan asing yang akan menghancurkan industri dalam negri.
Jika Industri Hasil Tembakau Mati
Ketika industri ini terus diserang dengan berbagai regulasi dan narasi negatif, tentu lama-lama akan mati. Seperti halnya gula dan garam. Akan bergantung pada impor. Tentu inilah yang diharapkan pihak asing.
Lebih jauh lagi, bagaimana dengan nasib 6 juta orang yang menggantungkkan hidupnya dengan industri ini? Bagaimana nasib petani tembakau ? Mungkin akan ada yang bilang, “‘kan tinggal ganti tanamanan lain.” Kalau omong, gampang. Persoalannya, di musim tertentu akan sulit bertanam. Misal musim kemarau, yang mana sangat sedikit pasokan air bagi petani. Yang hanya bisa tumbuh, ya, tembakau. Bahkan di Temanggung sendiri ada tanah yang memang hanya bisa ditanami tembakau saja. Jika pun memang diganti dengan tanaman lain, mesti secara ekonomi tidak semenjanjikan temabakau.
Belum lagi soal buruhnya. Mau dikemanakan mereka? Apalagi yang sudah tua dan hanya punya ijazah SD/SMP. Pastinya bakal kehilangan lapangan pekerjaan. Akhirnya, sulit mencari pekerjaan lain. Negara pun akan kehilangan pendapatanya dari cukai dan pajaknya.
Ini Bukan Soal Merokok Atau Tidak Merokok, Tapi Ini Soal Hajat Hidup Jutaan Orang
Kenapa banyak orang tidak bersuara ketika sektor Industri Hasil Tembakau atau kretek diserang? Tidak seperti halnya isu yang lain, ketika ada isu soal kemanusiaan pasti selalu naik dan banyak yang bersuara. Tapi kalau kretek? Sama sekali tidak. Padahal, di sana ada 6 juta orang yang bergantung dengan indsutri ini. Bahkan bagi masyarakat Temanggung, tembakau adalah hidup dan mati.
Banyak orang yang tidak berani menyuarakan isu kretek karena takut dicap sebagai perokok. Atau yang merokok pun banyak yang tidak peduli dengan kretek. Yang penting bisa merokok saja. Soal mahal kan, tinggal cari yang murah.
Banyak juga yang bersuara tapi selalu di cemooh. Bahkan dihujat. Dianggap sebagai pembela barang yang merusak kesehatan. Dianggap orang gila. Semua ini karena memang sudah tidak adil sejak awal. Karena yang dibawa selalu narasi kesehatan. Padahal dulunya kretek ditemukan sebagai obat asma. Tapi, karena perang dagang atau perang nikotin itu semua berubah. Seolah rokok menjadi barang yang buruk bahkan harus hilang dari muka bumi.
Akhirnya, banyak orang memilih untuk diam daripada menyuarakan isu ini. Bahkan perokok pun juga sama: memilih diam.
Padahal kalau kita diam, lama-lama kita akan kehilangan warisan budaya yang khas, yang tidak mungkin diklaim oleh bangsa mana pun. Lebih jauh lagi, jutaan orang akan kehilangan mata pencahariannya.
Membela industri hasil tembakau sama dengan jihad. Membela hajat hidup jutaan orang. Sama dengan aksi kemanusiaan. Karena jika industri ini mati, orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari sektor ini juga akan mati pencahariannya.
Dan kita harus bersama-sama membela dan bersuara terkait masa depan industri ini. Pada akhirnya, ini bukan membela rokok atau pabrik rokok. Dan bukan persoalan merokok atau tidak merokok. Tapi ini menyangkut hajat hidup jutaan orang yang harus diperjuangkan.
Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika
BACA JUGA: Bohong Kalau Bicara Rokok Bikin Candu, Nyatanya itu Hanyalah Kebiasaan dan Pilihan Pribadi Manusia!










