Menikmati rokok merupakan salah satu aktivitas legal, setiap orang memiliki hak untuk merokok. Merokok bisa dilakukan berbagai tempat, seperti di warmindo, teras rumah, bahkan di pinggir lapangan.
Daftar Isi
ToggleNamun dari aktivitas merokok tersebut, saya tetap memiliki aturan untuk ditujukan pada diri sendiri dan setiap perokok yang ada di luar sana. Tak banyak orang yang merasa tidak nyaman berada di sekitar asap rokok. Karena dalam norma sosial, kita harus menghargai setiap orang, agar kita juga bisa dihargai oleh orang lain.
Menjadi perokok santun itu mudah dan sederhana. Tidak seribet seperti halnya memasak rendang atau mengedit video. Ada beberapa cara yang bisa saya berikan agar kita dapat mengedepankan moralitas kita dalam menikmati sebatang rokok.
Merokok Pada Tempatnya dan Perhatikan Kondisi
Ada tempat tertentu yang harus kita hargai keberadaannya untuk tidak menikmati rokok di kawasan tersebut. Seperti di dalam transportasi umum, area outdoor yang ada anak kecil, dan kawasan lain yang memiliki aturan kawasan tanpa rokok.
Aturan tersebut dibuat untuk kenyamanan bersama. Bayangkan saja, jika kita merokok di dalam kereta api, maka asap dan abu rokoknya akan bertebaran ke mana-mana. Itu membuat penumpang lain tidak merasa nyaman dalam menikmati moda transportasi roda besi tersebut. Hingga saat ini, pihak PT KAI belum memberikan gerbong khusus merokok dan tetap berkomitmen akan aturan bebas rokok di setiap perjalanannya. Maka kita harus hargai aturan tersebut.
Sama halnya apabila kita berada di kawasan restoran keluarga. Mungkin pihak restoran memberikan kelonggaran bahwa setiap tempat outdoor adalah area merokok. Namun, harus kita pastikan bahwasanya tidak setiap area outdoor ramah untuk merokok. Contohnya, ketika area outdoor tersebut dipenuhi oleh anak-anak yang sedang berlarian. Ada baiknya jika kita menjauh dari area tersebut agar asap dan abu rokok tidak mengenai anak-anak. Hal tersebut juga dilakukan untuk kenyamanan bersama, agar yang merokok dapat menikmati rokoknya. Anak-anak juga bisa bermain dengan leluasa tanpa terpapar abu dan asap rokok.
Tanggung Jawab Terhadap Puntung Rokok
Puntung rokok sama halnya seperti sampah lain pada umumnya. Setelah tembakau yang kita hisab sudah habis terbakar, puntung tersebut tidak berguna lagi untuk dinikmati dan ada baiknya untuk kita buang pada tempat sampah. Tidak bisa kita buang sembarang begitu saja di jalan, hal ini membuat perokok di cap buruk karena untuk menjaga kebersihan saja, perokok tidak bisa melakukannya dari membuang puntung yang habis mereka pakai.
Puntung rokok yang bertebaran dimana-mana membuat lingkungan semakin kotor dan jorok. Hal ini sering saya amati apabila saya berada di public space yang disana merupakan area merokok. Puntung rokok yang bertebaran dimana-mana membuat saya geli ketika melihatnya, membuat saya merasa miris ketika melihat perokok yang tidak memiliki moral ini.
Akan lebih baik, apabila kita menjadi perokok santun yang dapat bertanggung jawab atas hak yang kita ambil dan bijak terhadap diri sendiri dan orang lain. Mulailah bertanggung jawab dari hal kecil seperti membuang puntung rokok pada tempatnya, atau lebih baik lagi jika memiliki asbak portable yang bisa dibawa kemana-mana, lalu dibuang setelah asbak tersebut penuh dengan bekas puntung rokok yang kita hisap.
Berhentilah di Suatu Tempat Jika Ingin Merokok
Banyak kasus yang sudah viral di media sosial mengenai orang-orang yang merokok saat sedang berkendara, baik itu yang mengendarai mobil maupun motor. Hal tersebut menyebabkan terganggunya pengguna jalan lain yang sedang berkendara mencapai tujuannya.
Hal yang paling tidak disadari oleh perokok yang merokok di jalan adalah keselamatan orang lain. Padahal abu yang bertebaran bisa terkena mata, terutama pengendara sepeda motor yang kaca helmnya tidak ditutup. Hal tersebut bisa menyebabkan kecelakaan orang itu sendiri, bahkan bisa melibatkan orang lain.
Padahal, ketika kita berada di perjalanan, kita bisa mampir di suatu tempat seperti di Indomaret atau warmindo agar kita bisa istirahat sembari menikmati sebatang rokok yang kita miliki. Namun, apabila kita mengejar waktu, akan lebih baik apabila menahan hasrat dalam merokok agar dapat berkonsentrasi dalam perjalanan dan tidak mengganggu pengendara lain.
Saya sendiri pernah menjadi korban atas terkenanya abu rokok yang ditebarkan oleh perokok yang tidak punya moral itu. Untungnya saya masih bisa mengendalikan motor saya dan minggir ke pinggir jalan. Namun naasnya, mata saya menjadi seorang “uchiha” selama beberapa hari, sebelum mata saya sembuh dengan sendirinya.
Bolehlah kita merokok, apabila kita bisa mengedepankan moralitas kita terhadap orang lain. Jangan hanya karena hasrat kita ingin menikmati sebatang rokok, kita tidak memikirkan orang lain, padahal kita hidup memiliki aturan sosial yang tidak mesti ditulis.
Penulis: Aderifqi Dian Maulana
BACA JUGA: Menjadi Perokok Santun yang Taat Aturan Merokok










