Bagi sebagian orang, rokok mungkin hanya dipandang sebagai sarana relaksasi untuk mrngurangi stres. Namun, Kiai Haji Wahab Chasbullah, salah satu ulama besar sekaligus pendiri Jam’iyatul Nahdlatul Ulama (NU), berbeda. Di tangan Kiai Wahab Chasbullah, rokok bisa berubah menjadi alat diplomasi yang sangat ampuh.
Daftar Isi
ToggleMelalui pendekatan yang santai dan penuh kecerdasan, beliau berhasil memanfaatkan momen merokok bersama untuk menembus aturan kolonial Belanda yang terkenal kaku dan ketat. Hingga bahkan represif terhadap kaum pribumi.
Catatan Tentang Kiai Wahab Chasbullah
Kisah nyata ini dicatat oleh Abdul Mun’im D.Z. dalam buku Fragmen Sejarah Nahdlatul Ulama: Menyambung Akar Budaya Nusantara. Cerita ini bermula pada tahun 1929, saat NU sedang bersiap menggelar Muktamar ke-4 di Semarang.Â
Pada masa itu, mengumpulkan banyak orang sangatlah sulit. Pemerintah kolonial Hindia Belanda selalu curiga dengan aktivitas organisasi keagamaan pribumi. Sehingga, izin acara sangat susah didapatkan.Â
Demi memuluskan acara besar tersebut, Kiai Wahab Chasbullah mengambil langkah berani. Beliau mendatangi langsung rumah Charles Olke van der Plaas, sang Adviseur voor Inlandsche Zaken (Penasihat Urusan Bumiputera). Van der Plaas bukanlah orang sembarangan. Ia adalah seorang ahli ketimuran sekaligus pejabat tinggi kepercayaan Belanda.
Alih-alih datang dengan suasana tegang atau kaku, Kiai Wahab Chasbullah justru hadir membawa kehangatan khas Nusantara. Pertemuan yang awalnya penuh kecurigaan politik itu seketika mencair. Itu terjadi saat Kiai Wahab mulai menyalakan rokok dan minum kopi bersama Van der Plaas. Di sinilah “diplomasi rokok” itu mulai bekerja.
Rokok Sebagai Alat Diplomasi Kiai Wahab Chasbullah
Asap rokok yang mengepul di ruangan menjadi jembatan yang menyetarakan posisi antara ulama pribumi dan pejabat tinggi Belanda. Sambil menikmati tiap isapan tembakau, Kiai Wahab mengubah obrolan politik yang berat menjadi obrolan santai. Penuh canda, namun tetap berbobot. Kedekatan yang terbangun lewat ritual merokok bersama ini berhasil meluluhkan sikap waspada Van der Plaas.
Kiai Wahab beralasan bahwa yang akan disampaikan itu bukan persoalan politik yang mengganggu ketenteraman umum. Bukan sebuah persoalan yang membuat khawatir pemerintah ketika itu. Tetapi murni masalah diniyah ijtimaiyah.
Selain itu ada beberapa persoalan yang dibawa antara lain soal pembatasan gerakan NU di beberapa tempat, seperti di Mojokerto, dan Pekalongan yang dibatasi hanya 50 orang. Sementara anggota NU di kota-kota tersebut lebih dari 2500 orang. Kiai Wahab juga usul agar dalam menunjuk hoof-penghulu benar-benar memilih orang yang allamah. Yakni yang paham betul dalam ilmu keislaman.
Hasilnya sangat luar biasa. Van der Plaas langsung memberikan lampu hijau dan menandatangani izin pelaksanaan Muktamar ke-4 NU di Semarang. Bahkan, kebaikan pejabat Belanda itu melebar ke berbagai urusan umat lainnya yang berhasil dilobi oleh Kiai Wahab dalam sesi obrolan tersebut.
Kisah ini barangkali bisa menjadi bukti nyata bahwa rokok dan kopi, jika dipadukan dengan kecerdasan berkomunikasi, mampu menjadi senjata diplomasi yang hebat demi kemaslahatan umum.
Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Alfianaja Maulana Ardika
BACA JUGA: Kearifan Kiai Nusantara: Kisah Rokok Mbah Kholil Bangkalan dan Habib Luthfi Pekalongan









