Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n
Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n
Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n
Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n
Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n
Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n
Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n
Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n
Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n
Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n
Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n
Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n
Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n
Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n
Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n
Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n
Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n
Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n
Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n
Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n
Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n
Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n
Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n
Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n
Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n
Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};