\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n\n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n\n\n\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n\n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n\n\n\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n\n\n\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n\n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n\n\n\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n\n\n\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n\n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n\n\n\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n\n\n\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n\n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n\n\n\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n\n\n\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n\n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n\n\n\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n\n\n\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n\n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n\n\n\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n\n\n\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n\n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n\n\n\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n\n\n\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n\n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n\n\n\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n\n\n\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n\n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n\n\n\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n\n\n\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n\n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n\n\n\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n\n\n\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n\n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n\n\n\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n\n\n\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n\n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n\n\n\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n\n\n\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n\n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.<\/p>\n\n\n\n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n\n\n\n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n\n\n\n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n\n\n\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n\n\n\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n\n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5542,"post_author":"878","post_date":"2019-03-14 09:42:09","post_date_gmt":"2019-03-14 02:42:09","post_content":"\n

Di Kabupaten Temanggung, para petani tembakau kembali bergeliat menyiapkan musim tanam tembakau tahun ini. Sudah sejak bulan lalu hingga bulan ini, proses pembibitan benih tembakau dimulai. Mulai dari pusat kabupaten, hingga jauh ke lereng-lereng gunung di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, proses ini sudah dimulai.<\/p>\n\n\n\n

Penyuluhan demi penyuluhan dan pertemuan demi pertemuan antar petani juga kerap dilakukan. Ini dibutuhkan guna berbagi pengalaman perihal pembibitan dan agar para petani bisa menghasilkan bibit yang baik untuk ditanam di ladang-ladang mereka.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Geliat para petani tembakau di Temanggung semacam ini turun temurun terjadi sudah sejak lama. Tiap kali musim hujan akan berakhir, memasuki musim peralihan antara hujan ke kemarau, geliat pertanian tembakau kembali terjadi usai terhenti selepas musim panen sebelumnya dan musim hujan menggelayut di Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beasiswa untuk Anak-Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Temanggung Angkatan 2019, Dimulai<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada masa-masa seperti sekarang ini, selain petani tembakau, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) juga ikut sibuk di wilayah Temanggung. Kesibukan kami bertepatan dengan dimulainya musim tanam tembakau di Temanggung terjadi setidaknya sudah sejak tiga tahun belakangan.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Kami KNPK menyibukkan diri di Temanggung bersama anak-anak petani tembakau yang tahun ini bersiap masuk sekolah tingkat atas, SMK dan sederajat. Pada bulan ini, proses perjalanan program beasiswa yang dikelola KNPK untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung sudah menyelesaikan tahap kedua.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahap pertama yang berisi sosialisasi program beasiswa KNPK kepada seluruh petani di Temanggung dimulai sejak Desember 2018. Sosialisasi usai pada Februari 2019. Selanjutnya, mulai 11 Februari 2019, tahap kedua dimulai. Tahap kedua meliputi pendaftaran disertai penyerahan berkas kelengkapan pendaftaran dan wawancara singkat kepada seluruh pendaftar.<\/p>\n\n\n\n

Proses pendaftaran ini berlangsung hingga 11 Maret 2019 yang lalu. Hingga proses pendaftaran ditutup, total ada 420 anak yang mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa ini. Pekan ini KNPK dan pengurus beasiswa di Temanggung akan menggodok berkas pendaftaran yang masuk dan hasil wawancara yang telah dilakukan guna memastikan siapa saja yang lolos ke tahap berikutnya, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada penghujung bulan April 2019.<\/p>\n\n\n\n

Pada 18 hingga 20 Maret 2019, pengumuman siapa saja dari para pendaftar program beasiswa yang lolos seleksi tahap pertama dan bisa mengikuti tes tertulis akan dilakukan.<\/h3>\n\n\n\n

Bagi kami KNPK, selain berkomitmen memperjuangkan hak-hak petani tembakau dan cengkeh, mengadvokasi regulasi-regulasi yang mencederai dunia pertanian tembakau dan cengkeh, dan industri hasil tembakau, kami juga berkomitmen terjun langsung ke lapangan dan mencoba bersinergi dengan para petani tembakau, memerhatikan kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, setidaknya sudah berlangsung selama tiga tahun, kami melakukannya di wilayah Kabupaten Temanggung. Ke depan, semoga wilayah-wilayah lain tempat pertanian tembakau tumbuh subur semisal di Madura, Jember, dan Lombok, kami bisa menjalankan program beasiswa semacam yang kami lakukan di Temanggung.
<\/p>\n","post_title":"Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-program-beasiswa-knpk-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-14 09:42:18","post_modified_gmt":"2019-03-14 02:42:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5542","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5498,"post_author":"878","post_date":"2019-03-01 08:59:39","post_date_gmt":"2019-03-01 01:59:39","post_content":"\n

Sepanjang bertugas di Kabupaten Asmat, Papua sejak pertengahan 2014 hingga pertengahan 2015, saya mengenal dan berinteraksi dengan beberapa orang pastor yang bertugas di Kabupaten Asmat. Mereka datang dari berbagai tempat di negeri ini, satu dua orang berasal dari luar Indonesia. Pulau Kei, Flores, Timor, Jawa, hingga Sumatera ada.<\/p>\n\n\n\n

Dari belasan pastor yang pernah saya jumpai, lima di antaranya saya kenal akrab. Empat dari lima orang pastor yang saya kenal itu, aktif merokok. Menariknya lagi, jenis rokok favorit mereka berbeda-beda. Dari sana saya kemudian memetakan karakter empat orang pastor itu. <\/p>\n\n\n\n

Yang pertama, seorang pastor asal Jawa Tengah. Kali pertama berjumpa dengannya, penampilannya khas pastor-pastor flamboyan dari Jawa Tengah dan Yogya, berambut gondrok sebahu dengan sebagian besar rambut memutih, berpakaian santai, jika bicara tenang dan elegan. Flamboyan, betul-betul flamboyan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mari Mengenal Jenis-Jenis Kretek<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Jenis rokok favoritnya adalah sigaret kretek tangan (SKT) Dji Sam Soe. Selain itu, ia juga kerap membawa tembakau rajangan, cengkeh, dan kertas linting sendiri. Berbincang dengannya, begitu santai dan menenangkan. Betul-betul menerapkan prinsip tuma'ninah, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan penuh pengendapan makna sebelum kata-kata dan asap rokok keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Yang kedua, seorang pastor muda asal Pulau Kei. Gayanya eksentrik, khas anak muda. Tubuhnya atletis, pembawaannya selalu jenaka. Ia mengisap rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild, tepatnya Sampoerna Mild. Pilihan rokoknya seakan menyesuaikan dengan karakter pemuda yang masih enerjik.<\/p>\n\n\n\n

Yang ketiga, seorang pastor asal Bogor, Jawa Barat. Bertubuh gemuk namun kerap tergesa-gesa. Ia juga begitu mudah bergaul dengan siapa saja dan mudah dekat dengan banyak kalangan. Rokok favoritnya adalah sigaret putih mesin (SPM) Marlboro merah. Pastor ini jugalah yang mengelola asrama dan penginapan milik gereja di Agats.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/h4>\n\n\n\n

Dan yang terakhir, adalah seorang pastor yang ditempatkan sejauh sekira 200 kilometer dari ibukota kabupaten. Ia bertugas di kampung yang terletak tak jauh dari perbatasan antar-kabupaten di hulu sungai. Gemar menjelajah, dan berjalan-jalan keliling kampung untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga inovatif dan sangat merakyat. Rokok favoritnya, juga seperti rokok favorit di tanah Papua, Gudang Garam Surya 16.<\/p>\n\n\n\n

Selain empat orang pastor itu, saya juga mendapati banyak pastor dari gereja Katolik yang merokok. Saya lantas menanyakan bagaimana pandangan resmi gereja Katolik terkait konsumsi rokok. Berdasarkan informasi dari mereka (beberapa pastor mengutip ayat Al Kitab dan Katekismus Gereja Katolik, tetapi saya lupa persisnya ayat danbagian yang mana), segala yang merusak tubuh terlarang dikonsumsi dan dianggap perbuatan berdosa. Jika data kesehatan menyebutkan merokok mengganggu kesehatan, maka rokok terlarang.<\/p>\n\n\n\n

Itu pulalah yang menyebabkan Paus Fransiskus pada 2018 melarang secara resmi penjualan rokok di wilayah Vatikan. Berdasarkan juru bicara Vatikan, Paus Fransiskus mengacu pada data WHO yang menyebutkan dalam satu tahun lebih tujuh juta orang meninggal karena rokok. Sebuah data yang masih bisa dibantah sesungguhnya, namun saya merasa saya harus menghormati keputusan Paus Fransiskus dan Vatikan, seperti juga saya menghormati fatwa Muhammadiyah, NU, Persis, dan beberapa organisasi lainnya terkait hukum merokok.<\/p>\n\n\n\n

Namun ada informasi tambahan yang menarik dari berita pelarangan penjualan rokok di wilayah Vatikan. Vatikan merupakan daerah istimewa yang dikelilingi kota Roma di Italia. Wilayah tersebut adalah wilayah dengan otonomi khusus. Sejak 2003, di Vatikan dibuka toko-toko yang menjual produk-produk bebas cukai dan pajak. Salah satu produknya adalah rokok.<\/p>\n\n\n\n

Mereka yang bisa berbelanja di sana hanya penduduk Vatikan dan para pegawai yang bekerja di Vatikan. Murahnya harga rokok di Vatikan dan mahalnya harga rokok di wilayah Italia yang mengepung Vatikan, membikin penjualan rokok di Vatikan begitu tinggi dan memberi keuntungan yang juga tinggi bagi otoritas pemerintahan di Vatikan.<\/p>\n\n\n\n

Kerap mereka yang tinggal di Italia dan memiliki saudara yang bekerja di Vatikan menitip dibelikan rokok oleh saudaranya karena harganya yang relatif murah dibanding di luar Vatikan. Dalam sebulan, seorang pegawai yang bekerja di Vatikan diperbolehkan membeli 50 pak rokok, sedangkan para kardinal diperbolehkan membeli rokok mencapai 200 pak tiap bulannya.<\/p>\n\n\n\n

Sekira 14 tahun rokok menjadi produk dengan penjualan tertinggi di Vatikan dan mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan di sana. Saya kira, fakta ini adalah fakta yang menarik tentu saja.<\/p>\n","post_title":"Rokok dan Vatikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-dan-vatikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-01 08:59:46","post_modified_gmt":"2019-03-01 01:59:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5475,"post_author":"878","post_date":"2019-02-22 06:32:42","post_date_gmt":"2019-02-21 23:32:42","post_content":"\n

Tembakau bukan barang baru di Pulau Lombok. Sejarah mencatat komoditas ini sudah mulai ditanam di Pulau Lombok sejak zaman kolonialisme Belanda. Dahulu, umumnya tembakau yang ditanam di Pulau Lombok mirip dengan tembakau-tembakau yang berada di wilayah lain di Indonesia, tembakau dengan kadar nikotin yang tinggi yang biasa dikonsumsi oleh warga Indonesia yang biasanya menjadi bahan baku rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Usai Belanda meninggalkan negeri ini karena proklamasi kemerdekaan Indonesia, perkebunan-perkebunan tembakau di Pulau Lombok masih terus dibudidayakan dan dikembangkan. Pada 1960, PT Faroka SA menjadi perusahan yang membuka perkebunan tembakau pertama kali di Lombok. Setelah PT Faroka SA, berturut-turut PT BAT, PTP XXVII, PT GIEB, dan UD Tani Jaya membuka lahan perkebunan tembakau di Lombok. Pada 1985, PT Djarum kemudian membuka perkebunan di Lombok.<\/p>\n\n\n\n

Masuknya PT Djarum ke Lombok diawali dengan uji coba pembukaan lahan baru untuk jenis tembakau yang sesungguhnya masih belum terlalu banyak dikonsumsi pasar dalam negeri, tembakau jenis virginia flue cured. Tembakau jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku rokok putih dan rokok kretek jenis mild. Tembakau jenis ini memiliki kadar nikotin yang rendah dan tidak cocok untuk produksi rokok kretek filter reguler dan non-filter yang mengharuskan kandungan nikotin tinggi di dalam tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Adalah Suwarno M. Serad, salah seorang pegawai di PT Djarum yang memprediksi perubahan konsumsi tembakau di masa depan. Menurutnya, dalam dua hingga tiga dekade sejak mereka mulai mencoba menanam tembakau virginia flue cured, konsumsi tembakau akan berubah ke arah tembakau rendah nikotin. Ia memprediksi ini lewat pengamatannya dari konsumsi makanan masyarakat pada umumnya. Peralihan dominasi konsumsi karbohidrat ke arah keseimbangan konsumsi karbohidrat dan protein pada masyarakat umum menurutnya akan mengubah kebiasaan konsumsi tembakau masyarakat. Mereka yang banyak mengonsumsi protein lebih menyukai tembakau berkadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Serad lewat PT Djarum kemudian mengutus Iskandar untuk melakukan uji coba penanaman tembakau virginia flue cured di Lombok. Uji coba pertama dengan membuka lahan seluas 50 hektar di Lombok Timur. Prediksi Serad tidak meleset. Akhir 90an konsumsi rokok putih dan rokok kretek mild dengan kadar nikotin rendah meningkat. Puncaknya pada periode 2000an terjadi perubahan pola konsumsi tembakau dari rokok berkadar nikotin tinggi ke rokok dengan kadar nikotin rendah.<\/p>\n\n\n\n

Sejak tahun 1985, Iskandar mulai melakukan sosialisasi dan mengajak petani tembakau di Lombok menanam tembakau jenis virginia flue cured. Selain permintaan yang kian meningkat, tanah pertanian di wilayah Lombok memang cocok ditanami tembakau jenis ini. Mulanya Bojonegoro menjadi produsen terbesar tembakau jenis ini di Indonesia, perlahan tapi pasti, sejak periode 90an, Lombok berhasil mengambil alih dan berhasil menjadi wilayah dengan produksi tembakau virginia flue cured terbesar di Indonesia. Hingga saat ini luasan lahan tembakau di Lombok mencapai 22 hingga 24 ribu hektare dan mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton tembakau jenis virginia.<\/p>\n\n\n\n

Lombok menjadi pilihan uji coba hingga akhirnya menjelma sebagai produsen tembakau virginia terbesar di Indonesia karena kecocokan lahan. Karakter tanah yang subur dan pengairan yang baik menjamin tumbuh kembang tembakau virginia dengan baik. Perubahan suhu yang cukup drastis antara siang dan malam di wilayah pertanian tembakau di Lombok juga sangat cocok untuk bisa menghasilkan tembakau virginia flue cured kualitas baik. Siang hari mencapai 32 hingga 33 derajat celsius dan malam hari turun hingga 19 dan 20 derajat celsius menyebabkan tanaman tembakau bisa melakukan proses fotosintesis dengan maksimal pada siang hari dan melakukan pengendapan hasil fotosintesis juga dengan maksimal pada malam hari. Selanjutnya yang menjadikan Lombok begitu cocok ditanami tembakau jenis virginia, di wilayah itu ada batasan yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau. Dan yang terakhir, air di Lombok banyak mengandung Magnesium (Mg). Magnesium sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tembakau jenis virginia. <\/p>\n","post_title":"Sejarah Singkat Tembakau Virginia Flue Cured di Pulau Lombok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sejarah-singkat-tembakau-virginia-flue-cured-di-pulau-lombok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-23 06:06:34","post_modified_gmt":"2019-02-22 23:06:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5475","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":11},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};